sekecil apapun potensi yang ada apabila di kelola dengan tepat, akan dapat terbaca, tergali, tertata, dan berkembang secara optimal.
Ambil contoh sesorang yang pandai mengelola waktu, baginya tak ada satu detikpun yang tersia sia. Setiap waktu yang dia laluiakan jauh lebih banyak mendatangkan manfaat , dibandingkan waktu yang sama dilalui oleh mereka yang tidak pandai menej-nya.
Adapun hati adalah dari hati nurani atau lubuk hati yang paling dalam, yang merupakan sarana terpenting yang telah dikaruniakan allah kepada manusia. Hati adalah tempat bersemayamnya niat, yakni yang menetukan nilai perbuatan seseorang berharga ataukah sia –sia, mulia atau nista. Niat ini selanjutnya diperoses oleh akal pikiran agar bisa direalisasikan dengan efektif dan efesien oleh jasad kita dalam bentuk amal perbuatan.
Sederhananya, sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh imam ghazali, ditubuh manusia di ibaratkan sebagai sebuah kerajaan, maka hati tak lain adalah rajanya. Tentu saja, dia harus senantiasa ditata agar mampu menghadapi berbagai fenomena kehidupan dengan sikap dan perbuatan terbaik.Dalam hal ini rosulullah bersabda :
“Ketahuilah didalam jasad terdapat segumpal daging(mudgah),bila ia sehat maka sehatlah seluruhnya ,dan bila ia rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya,ketahuilah bahwa itu adalah hati.”(HR, bukhari muslim).
Dalam konsep mengelola hati, setiap keinginan, perasa’an atau dorongan apapun yang keluar dari dalam diri seseorang akan tersaring niatnya sehingga melahirkan suatu kebaikan dan kemuliaan serta penuh dengan manfaat. Tidak hanya bagi kehidupan dunia, tetapi juga untuk kehidupan ahirat kelak. Lebih dari itu, dengan pengelolaan hati yang baik, maka seseorang juga dapat merespons segala bentuk aksi atau tindakan dari luar dirinya baik itu positif ataupun negative secara proporsional. Respon yang terkelola dengan sangat baik ini akan membuat reaksi yang dikeluarkannya menjadi positif dan jauh dari hal hal mudlarat.
Dengan kata lain, setiap aktifitas lahir dan batinnya telah tersaring sedemikian rupa oleh proses mengelola hati. Karena itu, yang muncul hanyalah satu, yaitu sikap yang penuh kemuliaan dengan pertimbangan nurani yang tulus.
Dengan demikian, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa melalui konsep mengelola hati , seseorang bisa diarahkan agar menjadi sangat peka dalam ngelola sekecil apapun potensi yang ada dalam dirinya menjadi suatu yang bernilai kemuliaan serta member manfaat besar, baik bagi dirinya sendiri maupun makhluk allah yang lain. Lebih dari itu, dapat member kemaslahatan di dunia juga diahirat kelak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar